السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهْ لَا يَسُوْقُ الْخَيْرَ اِلَّا اللهْ
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهْ لَا يَصْرِفُ السُّوْاءَ اِلَّا اللهْ
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهْ مَا كَانَ مِنْ نِعْمَةٍ فَمِنَ اللهْ
بِسْمِ اللهِ مَا شَاءَ اللهْ لَا حَوْلَ وَلَا قُوَّةَ اِلَّا بِاللهْ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ تَتِمُّ بِهِ الصَّالِحَاتْ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ نِعْمَةْ
وَالْحَمْدُ لِلَّهِ عَلَى كُلِّ حَالْ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا رَسُوْلَ اللهْ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا حَبِيْبَ اللهْ
اَلسَّلَامُ عَلَيْكَ يَا خَيْرَ خَلْقِ اللهْ
Ayah ibu yang kami cintai, Guru-guru kami, yang kami hormati, serta teman-teman seperjuangan yang kami banggakan
Ayah . . . Ibu . . .
6 tahun yang lalu, kau antarkan kami ke tempat terasing ini.
Tempat yang memisahkan aku dari hingar bingar pergaulan anak seusiaku.
Tempat lapang yang terasa sempit ini, seakan penjara bagiku
Tempat ramai yang terasa sunyi ini, seakan merampas kebebasanku
Tempat mewah yang terasa gubuk ini, seakan menghancurkan masa depanku
Ayah ibu
Masih ingatkah engkau tatapan terakhir anakmu, saat pertama kali kau pergi meninggalkanku disini, tak terasa air mata membasahi pipi, namun seakan engkau tau peduli.
Ayah ibu
Ingatkah engkau dengan kata-kata mutiaramu “yang betah ya nak” itu adalah kata-kata yang sangat menyesakkan dadaku. Barang dan uang yang kau berikan padaku semua tak berarti bagiku.
Sesaat setelah engkau pergi meninggalkanku, terlintas di benakku “setega itukah engkau pada anakmu?”
Ayah ibu
Tahukah engkau satu hari disini terasa semiggu bagiku
Satu minggu terasa sewindu
Satu tahun terasa seumur hidup
Makan tak enak, tidur tak nyenyak, mandi tak basah
Ayah ibu
Hari ini pertanyaan yang terlintas di benakku dulu terjawab sudah
Tak perlu lagi kau menjelaskan betapa sayangnya kau padaku
Pondok yang dulu paling ku benci ini, kini menjadi tempat yang takan pernah kulupakan
Terimakasih ayah ….. terimakasih ibu………..
kau telah memaksa kami untuk tinggal disini sehingga aku menjadi seperti ini, tak ada anugrah terindah yang kau berikan padaku, melebihi kesempatan untuk berjuang dipondok ini.
Menyayangi tidak herus memberi tapi terkadang harus mengambil
Menyayangi tidak harus memuji tap terkadang harus memearahi
Menyanyangi tidak harus mengelus tapi terkadang harus memukul.
Kini aku mengerti arti kasih sayang yang sejati
Ayah ibu
Kami tau pasti engkau lelah, aku yakin engkau lelah
Tapi tak pernah aku melihat rasa lelah di wajahmu, kau tutupi kelelahanmu dengan senyumanmu yang selalu menghiasi wajahmu. Sehingga menjadi energi besar bagiku
Ayah terimaksih atas perjuanganmu selama ini, kau banting tulang peras keringat demi membiayaiku, kau rela mengumpulkan butir demi butir berondalan sawit di tengah matahari yang terik, demi membiayaiku
Aku sangat sadar ayah jarang membeli baju, demi anakmu yang harus membeli seragam baru.
Terimakasih ayah, semoga Allah panjangkan umurmu dan kuatkan badanmu serta membalas tetesan keringatmu.
Terimakasih ibu, kau selalu menyebut namaku dalam doamu, aku tau pasti kau resah jika terlambat mengirimkan uang jajan, engkau pasti khawatir aku tak bisa makan, engkau pasti sedih aku tak bisa jajan
Ayah ibu
Tahukah engkau bagaiamana aku melewati hari-hari pertamaku ditempat terasing ini,
Rasa sedih, gelisah dan gundah semua menyatu dalam hatiku.
Sedih karena harus berpisah dengan orang tua dan keluarga, gelisah ketika harus berganti menu makanan, makan yang selalu berselera kini asin rasanya ketika nasi bercampur air mata. Gundah ketika suara microphon memekakan telingaku menggema di asramaku, ala jamii tullab liyadzhabanna ilal masjidi adalah suara teraneh yang palig ku benci, addawah adalah kata2 yang paling mnyeramkan bagiku, karena merupakan panggilan bagi santri yang harus siap dihukum. Lagi-lagi harus merangkak, lari keliling lapangan, memungut sampah, membersihkan asrama dan lain-lain.
Semua itu semakin meyakinku bahwa engkau benar-benar telah membuangku, namun aku teringat dengan kata nasihat yang pertama kali ku dengar di pondok ini. “anaku, ingatlah !! ketika orang tua kalian memasukkan kalian ke pondok ini, bukan karena mereka benci, bukan karena mereka takut beras habis, dan bukan juga membuang kalian, tetapi itu adalah bentuk kaish sayang orang tua kalian, yang mengharapkan kalian jadi orang yang sukses. Yang dimana Kelak ketika nyawa berpisah dengan badan mereka, mereka berharap kalianlah yang memandikan jenazahnya, mengimami shalat jenazahnya dan mengirimkan doa baginya, dan ingat wahai anak-anakku !! kalian adalah orang terpilih, dari satu kamupung mungkin hanya 1-10 orang yang allah pilih untuk berjuang fisabililah berjuang di ajalan allah dan itu adalah kalian
Itulah nasehat pertama guruku tercinta KH.M. RIDWAN, Lc, yang membakar semangatku menghidupkan gairah hidupku dan membangunkan ku dari mimpi burukku.
Ayah ibu terimakasih telah memondakkanku disini.
Kau titipkan kami di lingkungan orang-orang yang sangat peduli masa depanku, bahkan akiratku.
Ayah tau siapa mereka ? ibu tau siapa mereka ? mereka tak sedarah denganku, mereka bukan keluargaku, mereka bukan kakakku, mereka bahkan bukan tetanggaku, mereka adalah orang asing bagiku, namun perhatian dan kasih sayangnya tak bebeda dengan perhatian dan kasih sayangmu.
Yaa , mereka adalah guruku ayah, mereka ada ustadz-ustadzku ibu.
Dengan kesabaranya mereka telah merubahku dari biadab menjadi beradab, dari orang yang dihiasi berbagai macam kesalahan menjadi orang yang penuh dengan prilaku kesolehan, selalu menjadi teman disaat kesepian, menjadi sahabat yang selalu memberi nasehat ketika kami berbuat jahat.
Ayah . . . ibu . . .
Maafkan aku jika selama di pondok aku membebanimu, maafkan aku yang sering berbohong atas nama pondok, maafkan aku, aku belum bisa menjadi anak seperti yan kau harapkan.
رب اغفرلى ولوالدي وارحمهما كما ربيانى صغيرا
Ustadz – Ustadzahku tercinta
Terimakasih banyak atas segala ilmu yang kau ajarkan,
Terimakasih banyak atas adab yang kau contohkan.
Sekarang kami tau bahwa Akhlaqul karimah lebih dari segalanya.
Duhai guru-guruku, kami datang kepondok ini dengan hati yang kotor, jiwa yang meronta-ronta, akhlak yang tercela, serta tutur kata yang jauh dari adab dan etika.
Namun, dengan ketekunanmu, kami tau bagaimana cara mengenal Illahi Robbi
Dengan ketabahanmu, kami Tau bagaimana mencintai Nabi Muhammad sepenuh hati,
Dengan kasih sayangmu, kami tau bagaimana caranya berbakti kepada bapak dan ibu kami
Dengan kepedulianmu, kami tau bagaimana caranya menjadi manusia yang bermanfaat dikemudian hari.
Duhai guru-guruku. Dulu aku mengira kau kejam padaku, mentang-mentang aku bukan anakmu, kau menghukumku seakan tak punya rasa belas kasihan. Kau jemur aku dibawah terik matahari, kau suruh aku berlari mengitari lapangan, kau biarkan aku merangkak. Namun kini aku mengerti, kau sedang mengajarkanku bahwa terik matahari yang membakar kulitku akan menjadi cahaya yang akan menyinari masa depanku, kau suruh aku berlari mengajarkanku untuk selalu mengejar cita-citaku, kau biarkan aku merangkak, ternyata sedang mengajariku arti dari sebuah perjuangan.
Kini, hukuman yang kau berikan telah hilang sakitnya, telah lenyap malunya, yang tersisa adalah mutiara hikmah yang akan selalu menyertaiku dalam setiap langkahku.
Ustadz – Ustadzahku tercinta
Maafkan kami yang selalu melawan, maafkan kami yang selalu berbohong dan pura-pura sakit ketika jam pelajaran, maafkan kami yang terkadang lancang dan tidak sopan, maafkan kami sering membicarakan kekuranganmu, maafkan kami belum bisa menjadi murid yang kau harapkan. Kami mohon Halalkan makanan dan minuman yang pernah kami makan tanpa izin darimu. Doakan kami agar kelak menjadi orang yang bermanfaat apapun profesi kami. Doa terbaik untukmu wahai guruku, semoga Allah membalas jasa-jasamu, membalas jerih payahmu mendidik kami.
اَللَّهُمَّ اغْفِرْ لِمَشَايِخِنَا وَلِمَنْ عَلَّمَنَا وَارْحَمْهُمْ، وَأَكْرِمْهُمْ بِرِضْوَانِكَ الْعَظِيْمِ، فِي مَقْعَد الصِّدْقِ عِنْدَكَ يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِيْنَ
Duhai Allah ampunilah guru-guru kami dan orang yang telah mengajar kami, sayangi mereka, muliakan mereka dengan ridha-Mu yang agung, di tempat yang disenangi di sisi-Mu, wahai Dzat Yang Maha Penyayang di antara penyayang
اَللَّهُمَّ اسْتُرْ عَيْبَ مُعَلِّمِينَا عَنِّي وَلَا تُذْهِبْ بَرَكَةَ عِلْمِهِ مِنَّا
Ya Allah, tutupilah aib guruku dariku, dan jangan Engkau hilangkan berkah ilmunya dariku.
Teman-teman seperjuangan
Sedih bercampur bahagia kita rasakan hari ini, sedih karena harus mengakhiri kebersamaan kita selama 3-6 tahun. Kita melakukan segala sesuatu bersama, tidur bersama, makan bersama, belajar bersama, bermain bersama, hingga mandipun kita bersama. Dan kita Bahagia karena telah melewati segala rintangan untuk mencapai titik ini.
Untuk semua teman-teman yang baik padaku, terimakasih banyak telah mengajarkanku arti syukur yang sesungguhnya, dan untuk yang pernah jahat padaku, terimakasih kau telah mengajarkanku arti kesabaran
Dulu kalian bukan siapa-siapa bagiku, tapi kini kalian adalah saudaraku yang akan selalu ku ingat dan ku kenang.
Terimakasih telah berbagi suka duka di pondok ini, terimakasih telah berbagi kebahagiaan dan kesedihan, terimakasih atas segala canda tawa,
انا أحبكم فى الله
Oh adik-adikku, terimakasih telah memaksa mendewasakan kami, kami belajar memikul tanggung jawab dari kalian, kami belajar menjadi pemimpin berkat kalian. maafkan kami tak bisa menjadi kakak yang baik, maafkan kami yang pernah menghukummu, memarahimu, menyuruhmu, bahkan memukulmu. Kami berdo’a semoga kelak kalian bisa melampaui apa yang pernah kami capai di pondok ini.
Wahai warga parit sulsel, maafkan kelancangan kami, maafkan kami yang sering mengambil sandalmu di mesjid. Kami doakan semoga warga parit sulsel Allah berikan keluasan rezeki.
Wahai para pedagang di sekitar pondok, barangkali ada makanan dan minuman yang belum kami bayar, baik sengaja atau sengaja kami mohon di halalkan, semoga Allah lapangkan rezeki kalian.
Terkusus pak haji Mase, tolong halalkan ikan yang kami pancing, tolong halalkan kelapa muda yang kami panjat, tolong halalkan mangga yang kami lempar, tolong halalkan jambu yang kami kadang atau kami juluk, walaupun cctv mengawasi kami namun apalah daya hanya sekedar mengganjal perut kami yang kosong, karena dompet kami telah lama kosong. Maafkan kami pak haji, bukan kami berani apalagi tak menghormati. Semoga pak haji panjang umur dalam ketaatan.
Oh mak haji, maafkan kami terkadang ambil barang tak bilang-bilang, apalah daya perut sudah keroncong, ikan yang dipancing sudah di potong-potong, daripada busuk di air, lebih baik busuk di perut kami.
Wahai warga pengalihan dan sekitarnya
Maafkan kami karena terkadang kami bahagia diatas Penderitaan bapak/ibu, maafkan kami yang bahagia jika bapak/ibu tertimpa musibah kematian, bukan bahagia karena saudara bapak/ibu meninggal tapi bahagia karena berharap dapat secangkir teh dan roti gratis di tengah keuangan yang semakin kritis. Tapi doa yang kami panjatkan insyaallah lahir dari lubuk hati kami yang paling dalam.
Jika ada kesalahan yang kami lakukan, tolong jangan bawa-bawa guru kami, jangan bawa-bawa pondok kami, karena itu adalah murni kesalahan dari kami.
Orang bugis senagn berkelana
Orang melayu tipenya setia
Kalo ada orang arif dan bijaksana
Itulah Ustadz ridwanku tercinta
Bulan ramadhan sudah kita lalui
Jangan lupa berbagi parsel
Kalau ada warga yang peduli
Itulah warga parit sulsel
Bunga mawar bunga melati
baunya wangi mekar di taman
jikalah ada masyarakat yang baik hati
itulah masyarakat desa pengalihan
ada banyak kenangan yang sulit di lupakan
ada banyak cerita yang tak mungkin berulang
ada banyak kesan yang takan hilang dari ingatan
ada banyak jasa yang tak mungkin bisa terbalas
ada banyak rotan yang mendarat di tangan yang tak bisa kami hitung
namun lebih banyak ilmu yang melekat kuat yang tak bisa dibayar oleh apapun
sungguh nikmat buah durian
batangnya besar menjulang tinggi
atas jasamu wahai guru sekalian
kami ucapkan terimakasih
tanaman elok sibatang strobery
tanaman indah sibatang pepaya
keren dan alim itulah santri
apalagi santri azkiya
belajar, belajar dan terus belajar
wadaan pondok & ustadz-ustadzku
Goodbye sahabat-sahabatku
Selamat tinggal adik-adikku
Salama’ki parit sulsel
Assalamuaaikum



