السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
حَمْدًا وَشُكْرًا لِلَّهِ صَلَاةً وَسَلَامًا عَلَى رَسُوْلِ اللهِ وَعَلَى آلِهِ وَاَصْحَابِهِ وَمَنْ تَبِعَهُ اِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ. اما بعد
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Tidak terasa sudah 79 tahun Indonesia Merdeka. Indonesia yang kita kenal sebagai mozaik indah yang menggabungkan keanekaragaman budaya, alam, dan sejarah dalam satu bingkai yang megah, lukisan raksasa yang meliputi lebih dari 17.000 pulau, masing-masing dengan warna dan teksturnya sendiri dari pantai-pantai berpasir putih di Bali, hutan hujan tropis di Kalimantan, hingga puncak-puncak megah di Papua. Indonesia adalah simfoni yang harmonis dari berbagai suku, bahasa, dan adat istiadat, yang berbaur dalam satu identitas bangsa. Setiap daerah memiliki keunikan yang tak tertandingi, seperti kuliner yang menggugah selera, dari rendang yang pedas nan lezat (emhhh) hingga sate Madura yang sangat menggoda. Budaya lokal yang kaya, seperti tarian tradisional yang memukau dan upacara adat yang sakral, melengkapi keindahan alamnya.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Itulah cuplikan kecil dari bangsa yang kita cintai. Yang merupakan warisan para pejuang yang wajib kita jaga. Dari hasil survei penetrasi internet Indonesia 2024 yang dirilis APJII (Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia) , tingkat penetrasi internet Indonesia di tahun 2024 menyentuh angka 79,5% dengan total pengguna 221juta jiwa. Wow. Fantastit Bukan ?
Era digital dewasa ini terbukti telah menjadikan manusia dan teknologi harus hidup berdampingan dan senantiasa berkolaborasi. Manusia dewasa ini sangat bergantung pada teknologi yang merupakan produk ciptaannya sendiri. Internet telah membentuk budaya baru kehidupan manusia, mulai dari model komunikasi, kegiatan ekonomi, transportasi, pendidikan, hingga keagamaan.
Berdasarkan data dan fakta ini izinkan kami menyampaikan Syarhil Qur’an dengan Tema “Mengisi Kemerdekaan Sesuai Al-Qur’an di Era Digital”
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Era digital memang memberikan kemudahan bagi siapa saja. Tetapi era digital juga telah melahirkan berbagai konten informasi yang tidak benar dan begitu mudah memicu salah paham yang memicu kebencian antar kelompok. Dalam bidang keagamaan, era digital turut melahirkan gagasan keagamaan tertentu yang membentuk sebuah pemikiran yang tertanam dalam pemahaman masyarakat. Pengalaman keagamaan yang bersifat personal, fatwa-fatwa yang tak berdasar, serta pengetahuan yang tidak jelas sanadnya diciptakan sedemikian rupa untuk menggiring opini masyarakat.
Otoritas keagamaan pun mengalami pergeseran, dari para ulama, ustaz, ormas keagamaan dan pemerintah melalui Kementerian Agama, beralih kepada media baru yang tampak impersonal dan berbasis pada jejaring informasi. Setiap orang dengan mudah mengakses pengetahuan menurut selera dan kebutuhan masing-masing.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Teknologi informasi dengan berbagai inovasi yang dilahirkannya sejatinya adalah sebatas alat untuk kehidupan saja, bukan tujuan. Teknologi informasi adalah salah satu alat mendekatkan diri kepada Allah dan sekaligus sebagai sarana untuk menjalankan misi sebagai khalifatullah fil ardl, yaitu untuk mewujudkan kedamaian dan rahmat bagi seluruh alam.
Karena itulah, pengelolaan teknologi informasi di era digital harus tetap disandarkan pada petunjuk Allah yang termaktub dalam al-Qur’an.
Di antara petunjuk itu;
pertama, kewajiban untuk melakukan tabayyun terhadap berbagai berita yang diterima sebagaiamana Firman Allah dalam Suroh Al-Hujurot ayat 6, mari kita simak !
بِسۡمِ ٱللَّهِ ٱلرَّحۡمَٰنِ ٱلرَّحِيمِ
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ إِن جَآءَكُمۡ فَاسِقُۢ بِنَبَإٖ فَتَبَيَّنُوٓاْ أَن تُصِيبُواْ قَوۡمَۢا بِجَهَٰلَةٖ فَتُصۡبِحُواْ عَلَىٰ مَا فَعَلۡتُمۡ نَٰدِمِينَ
Artinya : “Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”.
“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu”. (QS. Al-Hujurat: 6).
Proses tabayyun dilakukan pada dua hal, yaitu si pembawa berita dan isi berita itu sendiri. Budaya tabayyun akan mampu menekan penyebaran berita bohong yang ada di masyarakat.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Yang Kedua, larangan menghina, menghujat dan mencemooh orang lain. Sebagaimana Allah SWT berifriman dalam suraoh Al-Hujurot ayat 11
يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُواْ لَا يَسۡخَرۡ قَوۡمٞ مِّن قَوۡمٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُونُواْ خَيۡرٗا مِّنۡهُمۡ وَلَا نِسَآءٞ مِّن نِّسَآءٍ عَسَىٰٓ أَن يَكُنَّ خَيۡرٗا مِّنۡهُنَّۖ
Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki merendahkan kumpulan yang lain, boleh jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. Dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh jadi yang direndahkan itu lebih baik.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Setiap hal yang berbeda tidak boleh dijadikan alat untuk saling merendahkan dan mengklaim diri yang paling baik dan benar. Tidak boleh pula untuk memproduksi ghibah yang menggiring opini orang lain untuk menerima informasi bohong sebagai suatu kebenaran.
Dan ketiga, khusus dalam konteks ajaran agama, larangan mengikuti faham atau pemikiran tanpa ada pengetahuan atas faham atau pemikiran tersebut, hal ini ditegaskan oleh Allah SWT dalam suroh Al-Isro ayat 36
وَلَا تَقۡفُ مَا لَيۡسَ لَكَ بِهِۦ عِلۡمٌۚ إِنَّ ٱلسَّمۡعَ وَٱلۡبَصَرَ وَٱلۡفُؤَادَ كُلُّ أُوْلَٰٓئِكَ كَانَ عَنۡهُ مَسۡئُوْلٗا
صَدَقَ اللَّهُ الْعَظِيْمُ
Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.
Maha Benar Allah dengan segala firmannya
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Di era digital seperti ini, terkadang masyarakat dibuat bingung untuk membedakan mana Dukun dan mana kiai, Mana Al-Qur’an dan mana Bahasa Suryani, mana Hadits dan mana Wamaqoli. Sebagaimana yang kita tahu, hari ini kita sedang di pertontonkan seorang pelawak yang di dapuk bak seorang Ulama besar, mengaku bisa berkomunikasi dengan jin, berbicara dengan bidadari, berdialog dengan semut, dan bernegoisasi dengan malaikat.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah”
Perlu diketahui, bahwa yang didengar, dilihat dan dipilih oleh seseorang, semuanya akan dimintai pertanggungjawaban oleh Tuhan. Kesukaan pada figur ustaz atau kelompok faham tertentu jangan sampai menghilangkan daya kritis dalam mempelajari, memahami, dan mengamalkan ajaran agama.
Hadirin Ma’asyirol Muslimin Rohimakumullah
Dari uraian syarhil qur’an ini bisa kita tarik benang merahnya, bahwa cara mengisi Kemerdekaan yang paling ideal di era digital adalah dengan mengikuti way of life yaitu Al-Qur’an. Oleh karena itu marilah kita semua mengikuti tuntunan Al-Qur’an dalam memanfaatkan tekhnologi di era digital.
Bila badan terasa sakit
Janganlah pergi ke kuburan
Hidup di era digital memanglah sulit
Mari ikuti Tuntunan Al-Qur’an
Jalan-jalan ke toko bangunan
Di toko bangunan beli bakwan
Mari isi kemerdekaan
Dengan megikuti Al-Qur’an



