Dalam persepsi umum, ilmu selalu dipandang sebagai jalan keselamatan. Semakin tinggi ilmu seseorang, semakin dianggap dekat dengan kebenaran. Namun ulama klasik justru mengajukan peringatan keras yang jarang disampaikan: ilmu bisa berubah menjadi musibah jika tidak diarahkan dengan benar.
Bahkan, sebagian ulama menyebut bahwa ilmu adalah ujian paling berat, karena ia memberi rasa aman palsu kepada pemiliknya.
Ilmu sebagai Alat Tipuan yang Halus
Ibnul Jauzi dalam kitab Talbīs Iblīs menjelaskan bagaimana iblis sering menyesatkan orang berilmu bukan dengan maksiat kasar, tetapi dengan pembenaran ilmiah. Orang berilmu mudah terjebak merasa aman karena ilmunya, padahal justru itulah celah kehancurannya.
Menurut Ibnul Jauzi, ilmu bisa menjadi musibah ketika:
-
Menumbuhkan rasa cukup tanpa muhasabah
-
Menghalangi seseorang dari menerima nasihat
-
Dijadikan tameng untuk membenarkan hawa nafsu
Ilmu semacam ini tidak merendahkan pelakunya secara lahir, tetapi menghancurkannya secara batin.
Ilmu yang Tidak Menghasilkan Rasa Takut
Imam Ibn Qayyim Al-Jauziyyah dalam Al-Fawā’id menegaskan bahwa ukuran keberhasilan ilmu bukan banyaknya hafalan, melainkan lahirnya rasa takut kepada Allah. Ilmu yang tidak menambah rasa khauf justru menjadi tanda bahaya.
Ia menyebut ilmu semacam ini sebagai hujjah ‘ala shahibihi—argumen yang kelak justru akan menjerat pemiliknya. Semakin tahu, semakin berat pertanggungjawabannya.
Mengapa Orang Berilmu Lebih Sulit Mengakui Kesalahan
Dalam Miftah Daris Sa’adah, Ibn Qayyim menjelaskan bahwa ilmu dapat membangun benteng psikologis yang sulit ditembus. Orang berilmu cenderung:
-
Sulit mengakui kekeliruan
-
Lebih defensif saat dikritik
-
Merasa memiliki legitimasi moral
Inilah sebabnya ulama klasik lebih khawatir terhadap kesesatan orang alim dibanding orang awam.
Tradisi Pesantren: Ilmu sebagai Amanah, Bukan Prestise
Tradisi pesantren tidak memandang ilmu sebagai simbol status, tetapi sebagai amanah berat. Karena itu, banyak kiai justru mengajarkan santri untuk takut pada ilmunya sendiri, bukan bangga.
Ilmu diposisikan sebagai beban tanggung jawab, bukan alat pencitraan atau legitimasi sosial.
Penutup: Ilmu yang Menyelamatkan dan Ilmu yang Membinasakan
Ulama klasik sepakat bahwa ilmu bukan jaminan keselamatan. Ia bisa menjadi cahaya, bisa pula menjadi api. Pembeda keduanya bukan pada isi ilmu, melainkan arah dan kesadaran pemiliknya.
Risalah ini menutup rangkaian dengan satu pesan tegas:
semakin tinggi ilmu, semakin besar kebutuhan akan rasa takut dan tanggung jawab.
Rujukan Kitab
-
Talbīs Iblīs – Ibnul Jauzi
-
Al-Fawā’id – Ibn Qayyim Al-Jauziyyah
-
Miftah Dār as-Sa‘ādah – Ibn Qayyim Al-Jauziyyah




