Lupa Niat Puasa Ramadhan? Sah atau Tidak? Penjelasan Lengkap Madzhab Syafi’i dan Solusi Taklid Madzhab Maliki

lupa niat puasa
Bagikan

Setiap Ramadhan selalu ada satu pertanyaan yang berulang: bagaimana jika seseorang lupa niat puasa pada malam hari? Ia bangun sahur, makan, minum, bahkan sudah menahan diri sejak subuh, namun ternyata ia tidak menghadirkan niat di antara maghrib hingga terbit fajar. Apakah puasanya tetap sah? Ataukah harus diqadha?

Masalah ini bukan perkara ringan. Ia menyentuh sah atau tidaknya ibadah yang menjadi rukun Islam. Dalam madzhab Syafi’i, pembahasan niat sangat detail dan tegas. Namun menariknya, para ulama juga menjelaskan solusi ketika terjadi kelupaan, dengan tetap menjaga disiplin fiqh dan menghindari talfiq.


Dalil Wajib Niat Sebelum Fajar

Kewajiban niat pada malam hari didasarkan pada hadis sahih yang diriwayatkan oleh Imam an-Nasa’i:

عن حفصة رضي الله عنها، عن النبي صلى الله عليه وسلم قال: «مَنْ لَمْ يُبَيِّتِ الصِّيَامَ قَبْلَ الْفَجْرِ فَلَا صِيَامَ لَهُ» وفي رواية: «مَنْ لَمْ يُجْمِعِ الصِّيَامَ مِنَ اللَّيْلِ فَلَا صِيَامَ لَهُ» (رواه النسائي رقم 2331)

Artinya:
Dari Hafshah radhiyallahu ‘anha, Nabi ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak meniatkan puasa sebelum fajar maka tidak ada puasa baginya.”
Dalam riwayat lain: “Barang siapa tidak menetapkan niat puasa sejak malam hari maka tidak ada puasa baginya.”

Para ulama ushul fiqh menjelaskan kaidah penting berikut:

الأصل في النفي حمله على نفي الحقيقة لا الكمال إلا لدليل

Artinya:
Pada asalnya, bentuk penafian menunjukkan tidak sah (meniadakan hakikat), bukan sekadar tidak sempurna, kecuali ada dalil yang memalingkannya.

Karena itu, ungkapan “tidak ada puasa baginya” dipahami sebagai tidak sah puasanya, bukan sekadar kurang sempurna.

Dari sini jelas bahwa menurut madzhab Syafi’i, puasa wajib tanpa niat pada malam hari adalah tidak sah.


Penegasan Ulama Syafi’iyyah

Penjelasan ini ditegaskan dalam kitab-kitab mu’tabar madzhab Syafi’i.

Dalam تحفة المحتاج (3/387، ط: المكتبة التجارية الكبرى، سنة 1357هـ) disebutkan:

  ويشترط لفرضه – كرمضان أداءً وقضاءً وكفارةً ومنذورًا وصوم استسقاء أمر به الإمام (التبييت) أي: إيقاع النية ليلاً أي فيما بين غروب الشمس وطلوع الفجر ولو في صوم المميز وإن كان نفلاً لأنه على صورة الفرض كصلاته المكتوبة وذلك للخبر الصحيح: «من لم يبيت الصيام قبل الفجر فلا صيام له» والأصل في النفي حمله على نفي الحقيقة لا الكمال إلا لدليل ويشترط التبييت لكل يوم لأنه عبادة مستقلة.

Artinya:
Disyaratkan untuk puasa wajib – seperti Ramadhan, qadha, kafarat, nazar, dan lainnya – adanya tabiit, yaitu menghadirkan niat pada malam hari antara maghrib dan terbit fajar… dan disyaratkan niat untuk setiap hari karena setiap hari adalah ibadah yang berdiri sendiri.

Penegasan serupa disampaikan oleh Imam an-Nawawi dalam المجموع (6/290، ط: دار الفكر):

تجب النية كل يوم سواء رمضان وغيره وهذا لا خلاف فيه عندنا فلو نوى في أول ليلة من رمضان صوم الشهر كله لم تصح هذه النية لغير اليوم الأول

Artinya:
Wajib niat setiap hari, baik Ramadhan maupun selainnya. Tidak ada perbedaan pendapat dalam madzhab kami. Jika seseorang berniat pada malam pertama Ramadhan untuk seluruh bulan, maka niat tersebut tidak sah untuk selain hari pertama.

Dengan demikian, menurut madzhab Syafi’i, niat puasa Ramadhan harus diperbarui setiap malam. Niat satu bulan penuh tidak mencukupi kecuali untuk hari pertama saja.


Mengapa Dianjurkan Niat Sebulan Penuh?

Di sini muncul pertanyaan menarik: jika niat satu bulan penuh tidak mencukupi menurut Syafi’i, mengapa para ulama tetap menganjurkannya?

Jawabannya adalah sebagai bentuk ihtiyath (kehati-hatian). Jika suatu hari seseorang lupa berniat pada malam hari, maka ia masih memiliki landasan untuk bertaklid kepada madzhab Maliki.

Dalam نهاية الزين (ص 181) disebutkan:

ويسن في أول الشهر أن ينوي صوم جميعه وذلك يغني عن تجديدها في كل ليلة عند الإمام مالك فيسن عندنا لأنه ربما نسي التبييت في بعض الليالي فيقلد الإمام مالكًا مراعيًا باقي شروطه

Artinya:
Disunnahkan pada awal bulan untuk berniat puasa seluruhnya. Hal itu mencukupi menurut Imam Malik, sehingga disunnahkan dalam madzhab kita, karena mungkin seseorang lupa niat pada sebagian malam, maka ia dapat bertaklid kepada Imam Malik dengan tetap menjaga syarat-syaratnya.

Demikian pula dalam بشرى الكريم (ص 545، ط: دار المنهاج، 1425هـ).

Pendapat madzhab Maliki sendiri disebutkan dalam جامع الأمهات (ص 126، ط: اليمامة، 1421هـ):

وشرط الصوم كله النية من الليل ولا يشترط مقارنتها للفجر للمشقة والمشهور الاكتفاء بها في أول ليلة رمضان لجميعه وكذلك الكفارات

Artinya:

Syarat puasa seluruhnya adalah niat pada malam hari. Tidak disyaratkan harus bertepatan dengan fajar karena kesulitan. Pendapat yang masyhur adalah cukup satu niat di awal Ramadhan untuk seluruh bulan.

Inilah pintu solusi ketika seseorang lupa niat menurut madzhab Syafi’i.


Pembatal Puasa | Perbandingan Syafi’i dan Maliki

Namun perlu dipahami, bertaklid bukan berarti bebas memilih yang mudah. Jika seseorang ingin bertaklid kepada madzhab Maliki karena lupa niat, maka ia wajib menjaga seluruh syarat dan ketentuan madzhab Maliki pada hari tersebut. Agar taklid sah, seseorang harus menjaga seluruh syarat madzhab yang diikuti. Di sinilah pentingnya memahami perbedaan pembatal puasa.

Masuknya Sesuatu ke Dalam Rongga

Madzhab Syafi’i:
Segala sesuatu yang masuk ke dalam jauf (rongga tubuh bagian dalam) melalui lubang terbuka dengan sengaja membatalkan puasa.

Madzhab Maliki:
Masuknya sesuatu yang memiliki ‘ain (zat) melalui mulut atau hidung membatalkan. Namun ada rincian berbeda dalam beberapa kasus medis modern.


Celak Mata

Madzhab Syafi’i:
Celak tidak membatalkan puasa jika tidak sampai ke tenggorokan secara yakin.

Madzhab Maliki:
Celak membatalkan puasa secara mutlak.

Ini penting. Jika seseorang lupa niat lalu ingin bertaklid kepada Maliki, padahal ia memakai celak di siang hari, maka puasanya tetap batal menurut Maliki dan ia tidak bisa bertaklid.


Ciuman dan Sentuhan

Madzhab Syafi’i:
Ciuman tidak membatalkan puasa selama tidak keluar mani.

Madzhab Maliki:
Ciuman dihukumi haram jika dikhawatirkan menimbulkan syahwat. Jika keluar madzi karena ciuman atau sentuhan, puasa batal. Jika keluar mani, batal dan wajib qadha serta dalam kondisi tertentu ada kafarat.


Muntah

Dalil hadis:

من ذرعه القيء فليس عليه قضاء ومن استقاء عمدا فليقض (رواه أبو داود والترمذي)

Artinya:
“Barang siapa muntah tanpa disengaja maka tidak wajib qadha. Barang siapa sengaja muntah maka hendaklah ia mengqadha.”

Syafi’i dan Maliki sama-sama berpegang pada hadis ini, tetapi detail cabangnya bisa berbeda dalam penentuan kadar kesengajaan.


Hubungan Suami Istri

Dalilnya jelas:

أحل لكم ليلة الصيام الرفث إلى نسائكم (البقرة: 187)

Artinya:
“Dihalalkan bagi kalian pada malam puasa bercampur dengan istri-istri kalian.”

Jika dilakukan di siang hari Ramadhan dengan sengaja, maka menurut seluruh madzhab batal dan wajib kafarat berat.


Batasan Taklid dan Larangan Talfiq

Bertaklid kepada salah satu dari empat madzhab adalah sah.

Dalam إعانة الطالبين (1/25، ط: دار الفكر، 1418هـ):

كل من الأئمة الأربعة على الصواب ويجب تقليد واحد منهم ومن قلد واحدًا منهم خرج عن عهدة التكليف

Namun dilarang melakukan talfiq :

ويمتنع التلفيق في مسألة كأن قلد مالكًا في طهارة الكلب والشافعي في مسح بعض الرأس في صلاة واحدة

Dalam مختصر الفوائد المكية (ص 39–42، ط: دار البشائر الإسلامية، 1425هـ):

ويجوز الانتقال من مذهب إلى مذهب من المذاهب المدونة ولو بعد العمل ما لم يلزم منه التلفيق

Artinya:
Boleh berpindah madzhab bahkan setelah beramal, selama tidak menimbulkan talfiq.


Kesimpulan Praktis

  1. Niat puasa Ramadhan wajib setiap malam menurut madzhab Syafi’i.

  2. Niat satu bulan penuh hanya sah untuk hari pertama.

  3. Disunnahkan tetap berniat satu bulan penuh untuk antisipasi lupa.

  4. Jika lupa niat, boleh bertaklid kepada madzhab Maliki.

  5. Wajib menjaga seluruh syarat Maliki pada hari tersebut.

  6. Tidak boleh talfiq.

  7. Jika sudah melakukan pembatal menurut Maliki sebelum berniat taklid, maka wajib qadha.


Penutup

Fiqh Ahlussunnah wal Jama’ah mengajarkan disiplin sekaligus keluasan. Ada ketegasan dalam syarat sah, namun ada pula pintu solusi ketika terjadi kelupaan. Yang terpenting adalah tidak mempermainkan madzhab dan tidak mengambil rukhsah secara serampangan.

Semoga Allah menerima puasa kita dan menjaganya dari kekurangan yang tidak kita sadari.

Pengumuman Resmi

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Kategori

Profil Singkat PPM Al-Azkiya

PPM Al-Azkiya terletak di Parit Sulsel Ds. Pengalihan Kec. Keritang Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau

PPM Al-Azkiya merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan pendidikan berjenjang RA (Raudhatul Athfal)  hingga MA (Madrasah Aliyah), dengan sistem pembinaan terpadu yang menekankan keseimbangan antara keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan santri.

Al-Azkiya memiliki program unggulan Tahfidz Al-Qur’an, Takhossus (pendalaman Kitab Kuning), serta pembinaan karakter melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Muhadhoroh (latihan ceramah), ilmu kemasyarakatan, Drumband, dan kegiatan pengembangan minat bakat lainnya.

Apa Kata Alumni Tentang Azkiya ?

Ingin mengetahui lebih banyak informasi seputar kegiatan dan pendidikan di Pondok Pesantren Modern Al-Azkiya? Silakan jelajahi artikel lainnya atau hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Pengumuman Resmi

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Kategori

Profil Singkat PPM Al-Azkiya

PPM Al-Azkiya terletak di Parit Sulsel Ds. Pengalihan Kec. Keritang Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau

PPM Al-Azkiya merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan pendidikan berjenjang RA (Raudhatul Athfal)  hingga MA (Madrasah Aliyah), dengan sistem pembinaan terpadu yang menekankan keseimbangan antara keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan santri.

Al-Azkiya memiliki program unggulan Tahfidz Al-Qur’an, Takhossus (pendalaman Kitab Kuning), serta pembinaan karakter melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Muhadhoroh (latihan ceramah), ilmu kemasyarakatan, Drumband, dan kegiatan pengembangan minat bakat lainnya.