السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ
بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيمِ
اَلْحَمْدُ لِلَّهِ الَّذِي فَرَضَ الصِّيَامَ تَزْكِيَةً لِلنُّفُوسِ، وَتَطْهِيرًا لِلْقُلُوبِ، وَجَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِدْرَسَةً لِضَبْطِ الشَّهَوَاتِ وَتَرْبِيَةِ الْإِرَادَاتِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعْمَةِ الْإِسْلَامِ وَبُلُوغِ رَمَضَانَ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، أَمَرَنَا بِحِفْظِ الْجَوَارِحِ وَصِيَانَةِ الْأَلْسِنَةِ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، الَّذِي قَالَ: «مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ». أَمَّا بَعْدُ
Hadirin rahimakumullāh,
Ramadhan adalah bulan pengendalian diri. Kita menahan lapar, menahan haus, bahkan menahan emosi. Tapi ada satu yang sering tidak ikut puasa… yaitu kuota internet kita.
Kadang yang benar-benar “haus” itu bukan tenggorokan kita, tapi jempol kita. Baru lima menit tidak buka media sosial, rasanya seperti kehilangan arah hidup.
Hadirin yang dimuliakan Allah,
Kita hidup di zaman digital. Setiap bangun tidur yang pertama kita cari bukan sandal, tapi handphone. Bahkan ada yang sebelum baca doa bangun tidur sudah baca notifikasi.
Pertanyaannya: Apakah puasa kita juga berpuasa dari dosa media sosial?
Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (سورة البقرة: ١٨٣)
“Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”
Tujuan puasa adalah taqwa. Taqwa artinya menjaga diri dari murka Allah. Maka kalau selama Ramadhan kita masih menyebar fitnah, masih menghina orang, masih melihat yang haram di layar, berarti tujuan puasanya belum tercapai.
Rasulullah ﷺ bersabda:
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رواه البخاري رقم ١٩٠٣)
“Barang siapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”
Kalau tidak meninggalkan perkataan dusta, maka Allah tidak butuh puasanya.
Sekarang coba kita tanya diri kita:
Sudah berapa kali kita komentar pedas di media sosial?
Sudah berapa kali kita share berita tanpa baca sampai selesai?
Kadang judulnya saja belum tentu benar, tapi sudah kita sebarkan ke lima grup sekaligus
Padahal Allah Ta’ala berfirman:
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ جَاءَكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَإٍ فَتَبَيَّنُوا (سورة الحجرات: ٦)
“Wahai orang-orang yang beriman, jika datang kepada kalian orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti.”
Tabayyun dulu. Periksa dulu. Jangan langsung “forward”.
Hadirin sekalian,
Dosa media sosial itu banyak. Ada ghibah digital.
Allah Ta’ala berfirman:
وَلَا يَغْتَبْ بَعْضُكُمْ بَعْضًا (سورة الحجرات: ١٢)
“Dan janganlah sebagian kalian menggunjing sebagian yang lain.”
Hari ini ghibah bukan cuma di warung kopi. Tapi di kolom komentar. Di grup keluarga. Kadang kita bahas orang yang tidak hadir, seolah-olah kita hakim dunia.
Imam An-Nawawi رحمه الله menjelaskan:
الْغِيبَةُ ذِكْرُكَ أَخَاكَ بِمَا يَكْرَهُ وَلَوْ كَانَ فِيهِ
Artinya:
“Ghibah adalah engkau menyebut sesuatu tentang saudaramu yang ia tidak suka, meskipun itu benar.”
Ada juga riya digital. Posting ibadah bukan untuk motivasi, tapi untuk validasi. Upload sedekah supaya dapat pujian. Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:
إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه البخاري ومسلم)
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.”
Hadirin rahimakumullāh,
Imam Al-Ghazali رحمه الله menjelaskan bahwa puasa bukan hanya menahan makan, tapi menahan seluruh anggota badan dari maksiat.
Di zaman sekarang, anggota badan itu termasuk jari kita. Lucu ya, kita bisa menahan diri dari minum air selama 14 jam, tapi tidak bisa menahan diri dari buka Instagram 14 menit, Padahal setiap yang kita tulis dicatat.
Allah Ta’ala berfirman:
مَا يَلْفِظُ مِنْ قَوْلٍ إِلَّا لَدَيْهِ رَقِيبٌ عَتِيدٌ (سورة ق: ١٨)
“Tidak ada satu kata pun yang diucapkan melainkan ada malaikat yang mencatat.”
Bukan hanya yang diucapkan, tapi yang diketik juga.
Ramadhan seharusnya menjadi detoks digital. Kurangi scrolling. Perbanyak tilawah. Kurangi debat online. Perbanyak doa.
Kalau biasanya sebelum tidur kita cek story orang, mungkin di Ramadhan ini kita cek berapa halaman Al-Qur’an yang sudah kita baca.
Hadirin yang berbahagia,
Ramadhan bukan hanya menahan lapar. Ramadhan adalah latihan karakter. Kalau setelah Ramadhan kita tetap kasar di media sosial, tetap suka menghina, tetap mudah terpancing emosi, berarti kita perlu memperbaiki puasa kita.
Mari kita jaga puasa kita. Jangan sampai yang berpuasa hanya perut kita, sementara jari dan mata kita tetap bermaksiat.
Semoga Allah menerima puasa kita dan menjadikannya sebab meningkatnya ketakwaan kita.




