Khutbah Jumat Ramadhan: Menjadikan Puasa Sebagai Momentum Perubahan dan Ketakwaan

khutbah jum'at
Bagikan

ppmazkiya.com - Indragiri Hilir, Riau

الْخُطْبَةُ الْأُولَى

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ، الَّذِي بَلَّغَنَا شَهْرَ رَمَضَانَ، شَهْرَ الرَّحْمَةِ وَالْمَغْفِرَةِ وَالْعِتْقِ مِنَ النِّيرَانِ، نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ عَلَى نِعَمِهِ الْكَثِيرَةِ وَآلَائِهِ الْعَظِيمَةِ، وَنَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَنَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللَّهُ رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ، اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى اَلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ، فَإِنَّ التَّقْوَىٰ سَبِيلُ النَّجَاةِ وَعُنْوَانُ السَّعَادَةِ، قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ حَقَّ تُقَاتِهِ وَلَا تَمُوتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ مُسْلِمُونَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan adalah bulan yang selalu kita tunggu. Setiap tahun kita berdoa agar dipertemukan dengan Ramadhan. Namun pertanyaannya, sudahkah kita menjadikan Ramadhan sebagai momentum perubahan? Ataukah ia hanya datang dan pergi tanpa bekas dalam diri kita?

Allah Subhanahu wa Ta’ala menjelaskan tujuan puasa dengan sangat jelas dalam firman-Nya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ (الْبَقَرَةِ: ١٨٣)

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kalian berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kalian agar kalian bertakwa.”

Tujuan puasa bukan sekadar menahan lapar dan haus. Kalau hanya lapar dan haus, banyak orang miskin yang merasakannya setiap hari. Tujuan puasa adalah membentuk ketakwaan. Ketakwaan artinya kita menjadi pribadi yang lebih hati-hati dalam hidup. Hati-hati dalam berbicara, dalam bekerja, dalam menggunakan harta, dalam bergaul, bahkan dalam menggunakan handphone kita.

Hari ini kita hidup di zaman yang penuh tantangan. Informasi datang tanpa henti. Hiburan mudah diakses. Fitnah dan gosip menyebar cepat. Dalam kondisi seperti ini, Ramadhan hadir sebagai rem bagi kehidupan kita. Ia mengajarkan kita untuk berhenti sejenak, menahan diri, dan berpikir sebelum bertindak.

Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ، فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِي أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ رَقْمَ ١٩٠٣)

Artinya: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dusta dan perbuatan dusta, maka Allah tidak membutuhkan ia meninggalkan makan dan minumnya.”

Hadits ini sangat relevan dengan kehidupan kita sekarang. Dusta bukan hanya dengan lisan, tetapi juga dengan tulisan. Menyebarkan berita yang belum jelas kebenarannya, menipu dalam transaksi, memanipulasi data, membuat janji palsu, semua itu termasuk bentuk kedustaan yang bisa merusak pahala puasa.

Ramadhan melatih kita untuk jujur. Puasa adalah ibadah yang sangat pribadi. Tidak ada yang tahu kita benar-benar puasa atau tidak, kecuali Allah. Dalam hadits qudsi Allah Ta’ala berfirman:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ لَهُ إِلَّا الصِّيَامَ، فَإِنَّهُ لِي وَأَنَا أَجْزِي بِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Puasa adalah latihan kejujuran dan keikhlasan. Jika kita jujur dalam puasa, maka seharusnya kita jujur dalam pekerjaan. Jika kita takut melanggar puasa karena Allah melihat, maka seharusnya kita juga takut korupsi, takut menipu, takut berbuat zalim karena Allah juga melihat.

Ma’asyiral muslimin,

Ramadhan juga bulan ampunan. Kita semua punya dosa. Tidak ada manusia yang bersih dari kesalahan. Namun Allah Maha Pengampun. Rasulullah صلى الله عليه وسلم bersabda:

مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ رَقْمَ ٣٨، وَمُسْلِمٌ رَقْمَ ٧٦٠)

Artinya: “Barangsiapa berpuasa Ramadhan dengan iman dan mengharap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.”

Ini kesempatan besar. Namun syaratnya adalah iman dan ihtisab—kesungguhan dan keikhlasan. Jangan sampai kita hanya mendapatkan lapar dan haus.

Imam الحسن البصري رحمه الله berkata:

إِنَّ اللَّهَ جَعَلَ رَمَضَانَ مِضْمَارًا لِخَلْقِهِ يَسْتَبِقُونَ فِيهِ بِطَاعَتِهِ

Artinya: “Allah menjadikan Ramadhan sebagai arena perlombaan bagi hamba-hamba-Nya untuk berlomba dalam ketaatan.” (Disebutkan oleh Ibnu Rajab dalam Lathaiful Ma’arif)

Ramadhan adalah perlombaan. Siapa yang paling banyak membaca Al-Qur’an? Siapa yang paling rajin shalat malam? Siapa yang paling ringan tangannya bersedekah?

Ramadhan juga mengajarkan kepedulian sosial. Saat kita lapar, kita merasakan sedikit penderitaan orang yang kekurangan. Karena itu Rasulullah صلى الله عليه وسلم sangat dermawan di bulan ini.

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَجْوَدَ النَّاسِ، وَكَانَ أَجْوَدَ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ (رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ)

Ramadhan seharusnya membuat kita lebih peduli kepada tetangga, lebih ringan membantu sesama, lebih semangat berbagi.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah,

Ramadhan itu singkat. Cepat sekali berlalu. Banyak orang menyesal setelah Ramadhan pergi karena merasa belum maksimal. Jangan sampai kita termasuk orang yang merugi.

Mari kita jadikan Ramadhan sebagai titik awal perubahan:

  • Perbaiki shalat kita

  • Perbaiki akhlak kita

  • Perbaiki hubungan keluarga

  • Kurangi marah

  • Jaga lisan dan media sosial

  • Perbanyak istighfar dan sedekah

Semoga Ramadhan tahun ini benar-benar mengubah hidup kita menjadi lebih baik.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا، وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ.


الْخُطْبَةُ الثَّانِيَةُ

اَلْحَمْدُ لِلَّهِ حَمْدًا كَثِيرًا طَيِّبًا مُبَارَكًا فِيهِ، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَعَلَىٰ آلِهِ وَصَحْبِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

فَيَا عِبَادَ اللَّهِ، اتَّقُوا اللَّهَ، وَاعْلَمُوا أَنَّ رَمَضَانَ أَيَّامٌ مَعْدُودَاتٌ، فَمَنْ أَحْسَنَ فِيهِ فَقَدْ فَازَ، وَمَنْ فَرَّطَ فِيهِ فَقَدْ خَسِرَ

قَالَ اللَّهُ تَعَالَىٰ شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ

اللَّهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ، إِنَّكَ سَمِيعٌ قَرِيبٌ مُجِيبُ الدَّعَوَاتِ

اللَّهُمَّ أَعِنَّا عَلَىٰ صِيَامِهِ وَقِيَامِهِ، وَاجْعَلْنَا فِيهِ مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَاغْفِرْ لَنَا وَلِوَالِدِينَا وَلِلْمُسْلِمِينَ أَجْمَعِينَ

اللَّهُمَّ أَعِزَّ الْإِسْلَامَ وَالْمُسْلِمِينَ، وَأَذِلَّ الشِّرْكَ وَالْمُشْرِكِينَ، وَدَمِّرْ أَعْدَاءَ الدِّينِ، وَاجْعَلْ هٰذَا الْبَلَدَ آمِنًا مُطْمَئِنًّا سَخَاءً رَخَاءً وَسَائِرَ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ

اللَّهُمَّ ارْفَعْ عَنَّا الْغَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالرِّبَا وَالزِّنَا وَالزَّلَازِلَ وَالْمِحَنَ وَسُوءَ الْفِتَنِ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، عَنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَعَنْ سَائِرِ بِلَادِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً يَا رَبَّ الْعَالَمِينَ

عِبَادَ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَىٰ، وَيَنْهَىٰ عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ، يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ

فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَىٰ نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ، وَاللَّهُ يَعْلَمُ مَا تَصْنَعُونَ