Kultum Ramadhan: Lailatul Qadar Malam Perubahan dan Ampunan

Kultum Ramadhan
Bagikan

ppmazkiya.com - Indragiri Hilir, Riau

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

,ٱلْحَمْدُ لِلَّهِ ٱلَّذِي أَسْبَلَ سِتْرَ ٱللَّيْلِ عَلَى ٱلْعِبَادِ رَحْمَةً لِلْخَاشِعِينَ
,وَجَعَلَ فِي ظُلُمَاتِهِ أَنْوَارًا لِلْمُتَهَجِّدِينَ
,وَخَصَّ مِنْهُ لَيْلَةً تُفْتَحُ فِيهَا أَبْوَابُ ٱلسَّمَاءِ لِلدَّاعِينَ، وَتُكْتَبُ فِيهَا مَقَادِيرُ ٱلْعَالَمِينَ
,نَحْمَدُهُ حَمْدَ ٱلْمُشْتَاقِينَ، وَنَسْتَغْفِرُهُ ٱسْتِغْفَارَ ٱلنَّادِمِينَ
,وَنَرْجُو رَحْمَتَهُ رَجَاءَ ٱلطَّامِعِينَ، وَنَخْشَىٰ عِقَابَهُ خَشْيَةَ ٱلْمُقَصِّرِينَ
,وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلَٰهَ إِلَّا ٱللَّهُ نُورُ ٱلسَّمَاوَاتِ وَٱلْأَرَضِينَ
.وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ، قَامَ حَتَّىٰ بَلَّلَ ٱلدُّمُوعُ لِحْيَتَهُ، وَكَانَ أَشَدَّ ٱلنَّاسِ قِيَامًا فِي ٱلْعَشْرِ ٱلْأَوَاخِرِ أَجْمَعِينَ ,أَمَّا بَعْدُ

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Ada malam yang jika kita melewatinya, mungkin kita tak akan sadar bahwa kita baru saja melewati kesempatan terbesar dalam hidup kita.

Ada malam yang nilainya bukan dihitung dengan jam, tetapi dengan ampunan.

Ada malam yang bukan sekadar bagian dari Ramadhan, tetapi jantung dari Ramadhan.

Itulah Lailatul Qadar.

Allah ﷻ berfirman:

إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ ٱلْقَدْرِ ۝ وَمَا أَدْرَاكَ مَا لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ ۝ لَيْلَةُ ٱلْقَدْرِ خَيْرٌ مِّنْ أَلْفِ شَهْرٍ

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam kemuliaan. Tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik daripada seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1–3)

Seribu bulan Lebih dari delapan puluh tahun.

Bayangkan seseorang beribadah delapan puluh tahun penuh… lalu Allah mengatakan satu malam bisa melebihi itu.

Ini bukan sekadar angka. Ini pesan.
Pesan bahwa perubahan besar tidak selalu butuh waktu panjang – tetapi butuh kesungguhan yang dalam.

Hadirin sekalian,

Lailatul Qadar adalah malam turunnya Al-Qur’an. Malam ketika cahaya pertama wahyu menyentuh bumi yang gelap oleh kebodohan dan kezaliman.

Di malam itu, sejarah berubah.
Di malam itu, peradaban lahir.
Di malam itu, arah dunia berganti.

Maka siapa pun yang menghidupkan malam itu, sejatinya sedang membuka kemungkinan perubahan dalam dirinya sendiri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ ٱلْقَدْرِ إِيمَانًا وَٱحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

“Barang siapa menghidupkan Lailatul Qadar dengan iman dan penuh harap pahala, diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukari & Muslim)

Perhatikan syaratnya:
إِيمَانًا – dengan keyakinan.
وَٱحْتِسَابًا – dengan kesadaran mencari ridha Allah.

Bukan sekadar begadang.
Bukan sekadar ikut-ikutan.
Bukan sekadar suasana.

Tetapi iman yang hidup dan hati yang hadir.

Imam Ibn Rajab رحمه الله berkata:

وَالْمَحْرُومُ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا

“Orang yang benar-benar merugi adalah orang yang terhalang dari kebaikan malam itu.”

Bukan yang tidak tahu tanggalnya.
Bukan yang salah menebaknya.
Tetapi yang tidak sungguh-sungguh mencarinya.

Hadirin yang dirahmati Allah,

Mengapa Allah merahasiakan malam itu?

Agar kita bersungguh-sungguh sepanjang sepuluh malam.
Agar kita tidak hanya rajin satu malam, lalu lalai setelahnya.
Agar kesungguhan menjadi karakter, bukan ledakan sesaat.

Rasulullah ﷺ ketika memasuki sepuluh malam terakhir:

شَدَّ مِئْزَرَهُ، وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ (رواه البخاري)

Beliau mengencangkan ikat pinggangnya, simbol kesiapan total.
Beliau menghidupkan malamnya bukan setengah-setengah.
Beliau membangunkan keluarganya karena ini momen besar, bukan pribadi semata.

Hadirin sekalian,

Malam ini adalah malam kelahiran hati.

Berapa banyak orang yang hidup bertahun-tahun, tetapi hatinya belum pernah benar-benar lahir?

Lailatul Qadar adalah kesempatan untuk:

Melahirkan taubat yang serius.
Melahirkan niat baru.
Melahirkan keputusan meninggalkan dosa lama.
Melahirkan komitmen memperbaiki shalat.
Melahirkan kedekatan baru dengan Al-Qur’an.

Karena di malam itu:

سَلَامٌ هِيَ حَتَّىٰ مَطْلَعِ ٱلْفَجْرِ

“Sejahtera malam itu hingga terbit fajar.” (QS. Al-Qadr: 5)

Para ulama menjelaskan, “salam” berarti penuh keberkahan dan keselamatan.

Bayangkan… malam yang penuh keselamatan.
Doa diangkat.
Air mata dicatat.
Penyesalan dihargai.
Taubat diterima.

Hadirin yang dimuliakan Allah,

Jangan sampai kita sibuk mempersiapkan pakaian Idul Fitri, tetapi lalai mempersiapkan hati di Lailatul Qadar.

Jangan sampai kita mencari diskon dunia, tetapi melewatkan diskon dosa.

Karena boleh jadi, ini Ramadhan terakhir kita.
Boleh jadi, ini kesempatan terakhir kita mendapatkan malam itu.

Maka jika malam-malam akhir Ramadhan datang…

Jangan biasa-biasa saja.
Jangan ringan-ringan saja.
Jangan santai-santai saja.

Bangunlah meski berat.
Berdoalah meski suara pelan.
Menangislah meski tidak ada yang melihat.

Karena mungkin, di antara satu sujud itu…
Allah mengubah takdir hidup kita.

Semoga Allah memasukkan kita dalam golongan yang mendapatkan Lailatul Qadar.
Bukan hanya mengetahui tentangnya, tetapi merasakannya.
Bukan hanya membacanya, tetapi diampuni karenanya.

السَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ