Hukum Mengkhususkan Puasa Hari Jumat Menurut 4 Madzhab

Literasi Islami
Bagikan

ppmazkiya.com - Indragiri Hilir, Riau

Pendahuluan

Puasa sunnah merupakan salah satu bentuk ibadah yang memiliki keutamaan besar dalam Islam. Namun, para ulama memberikan perhatian khusus terhadap tata cara pelaksanaannya agar selaras dengan tuntunan syariat. Salah satu pembahasan penting dalam fikih puasa adalah hukum mengkhususkan (mengisolasi) puasa pada hari Jumat tanpa disertai hari sebelumnya atau sesudahnya.


Pendapat Mayoritas Ulama: Makruh Mengkhususkan Jumat

Mayoritas fuqaha dari kalangan Hanafiyah (dalam pendapat mu’tamad), Syafi’iyah, dan Hanabilah berpendapat bahwa mengkhususkan hari Jumat dengan puasa saja hukumnya makruh, kecuali dalam kondisi tertentu.

Di antara kondisi yang dikecualikan:

  • Seseorang memiliki kebiasaan puasa tertentu (misalnya puasa selang-seling: sehari puasa, sehari tidak).
  • Bertepatan dengan puasa sunnah tertentu seperti ‘Asyura atau lainnya.
  • Ada sebab khusus yang menjadikan hari itu biasa ia berpuasa.

Pernyataan Ulama Hanafiyah

Imam Asy-Syurunbulali menyatakan:

وَكُرِهَ إِفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ عَادَتَهُ

“Dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaannya.”

Sementara itu, Ibnu ‘Abidin menegaskan:

وَيُكْرَهُ إِفْرَادُهُ بِالصَّوْمِ، وَهُوَ الْمُعْتَمَدُ

“Dimakruhkan mengkhususkan (Jumat) dengan puasa, dan inilah pendapat yang mu’tamad.”


Pendapat Mazhab Syafi’i

Imam An-Nawawi menjelaskan:

يُكْرَهُ إِفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ، فَإِنْ وَصَلَهُ بِقَبْلِهِ أَوْ بَعْدِهِ أَوْ وَافَقَ عَادَةً لَهُ لَمْ يُكْرَهْ

“Dimakruhkan mengkhususkan hari Jumat dengan puasa. Jika disertai hari sebelum atau sesudahnya, atau bertepatan dengan kebiasaan, maka tidak makruh.”


Pendapat Mazhab Hanbali

Ibnu Qudamah menyatakan:

وَيُكْرَهُ إِفْرَادُ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ ذَلِكَ صَوْمًا كَانَ يَصُومُهُ

“Dimakruhkan mengkhususkan puasa pada hari Jumat kecuali jika bertepatan dengan puasa yang biasa ia lakukan.”


Pendapat Mazhab Maliki: Diperbolehkan

Berbeda dengan mayoritas ulama, mazhab Maliki membolehkan mengkhususkan puasa hari Jumat.

Ibnu ‘Arafah menyatakan:

وَأَجَازَ مَالِكٌ صَوْمَ الْجُمُعَةِ مُنْفَرِدًا

“Imam Malik membolehkan puasa hari Jumat secara khusus (tanpa disertai hari lain).”


Dalil Larangan Mengkhususkan Puasa Hari Jumat

Larangan ini didasarkan pada hadits Nabi ﷺ:

لَا يَصُومَنَّ أَحَدُكُمْ يَوْمَ الْجُمُعَةِ إِلَّا يَوْمًا قَبْلَهُ أَوْ بَعْدَهُ

“Janganlah salah seorang di antara kalian berpuasa pada hari Jumat, kecuali disertai hari sebelumnya atau sesudahnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Hadits lain dari Jabir رضي الله عنه:

نَعَمْ

(Ketika ditanya apakah Nabi ﷺ melarang puasa hari Jumat, beliau menjawab: “Ya.”)
(HR. Bukhari dan Muslim)


Penjelasan Ulama terhadap Larangan

Para ulama memahami bahwa larangan tersebut bukan larangan mutlak (haram), melainkan menunjukkan kemakruhan, dengan beberapa pengecualian.

Imam An-Nawawi menjelaskan:

فِيهِ دَلَالَةٌ ظَاهِرَةٌ عَلَى كَرَاهَةِ إِفْرَادِ يَوْمِ الْجُمُعَةِ بِالصَّوْمِ إِلَّا أَنْ يُوَافِقَ عَادَةً لَهُ

“Hadits-hadits ini menunjukkan secara jelas makruhnya mengkhususkan puasa hari Jumat, kecuali jika bertepatan dengan kebiasaan.”


Hikmah Larangan

Para ulama juga menyebutkan beberapa hikmah dari larangan ini:

  • Hari Jumat adalah hari raya mingguan umat Islam.
  • Dianjurkan untuk memperbanyak ibadah lain seperti dzikir, shalawat, dan menghadiri shalat Jumat.
  • Agar tidak melemahkan fisik dalam menjalankan ibadah utama di hari tersebut.

Kesimpulan

  • Mayoritas ulama: Makruh mengkhususkan puasa hari Jumat saja.
  • Mazhab Maliki: Boleh tanpa kemakruhan.
  • Pengecualian (tidak makruh):
    • Disertai puasa hari sebelum atau sesudahnya
    • Bertepatan dengan kebiasaan puasa
    • Bertepatan dengan puasa sunnah tertentu

Dengan demikian, sikap yang lebih hati-hati adalah tidak mengkhususkan puasa hari Jumat saja, kecuali ada alasan yang dibenarkan dalam syariat.

والله اعلم