Khutbah Idul Fitri Menyentuh Hati (PDF) – Doa Malaikat Jibril yang di Aminkan Nabi di Hari Idul Fitri

khutbah idul fitri
Bagikan

Khutbah Pertama

اَلسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

 اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي جَعَلَ شَهْرَ رَمَضَانَ مِيدَانًا لِلتَّائِبِينَ، وَمَوْسِمًا لِلْعَابِدِينَ، وَفُرْصَةً لِلْمُذْنِبِينَ لِيَعُودُوا إِلَى رَبِّ الْعَالَمِينَ

نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ رَبُّ السَّمَوَاتِ وَالْأَرَضِيْنَ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُوْلُهُ صَادِقُ الْوَعْدِ الْأَمِيْنُ

اَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْدُ

.فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي الْخَاطِئَةَ بِتَقْوَى اللّٰهِ، فَإِنَّ التَّقْوَى هِيَ خَيْرُ زَادٍ لِيَوْمِ لَا يَنْفَعُ  مَالٌ وَلَا بَنُوْنٌ اِلَّا مَنْ اَتَى اللَّهَ بِقَلْبٍ سَلِيْمِ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Hari ini adalah hari raya yang penuh kebahagiaan. Namun di balik kegembiraan ini, ada kesedihan yang mendalam di hati orang-orang beriman. Kita bergembira, karena Allah mempertemukan kita dengan hari raya, tetapi kita juga bersedih, karena Ramadhan telah pergi meninggalkan kita. Hari ini kita berkumpul dalam kebahagiaan hari raya. Kita bertakbir mengagungkan Allah. Kita saling memaafkan dan saling mendoakan.

Namun di tengah kegembiraan ini, ada sebuah hadits Rasulullah ﷺ yang sangat menggetarkan hati.

Hadits ini diriwayatkan oleh Imam Al-Bukhari di dalam Al-Adab Al-Mufrad.

Suatu hari Rasulullah ﷺ menaiki mimbar. Ketika beliau menaiki anak tangga pertama, beliau berkata:

آمِينَ

Ketika menaiki tangga kedua, beliau berkata lagi:

آمِينَ

Ketika menaiki tangga ketiga, beliau berkata lagi:

آمِينَ

Para sahabat terheran-heran lalu bertanya:

“Wahai Rasulullah, kami mendengar engkau mengucapkan آمين tiga kali.”

Rasulullah ﷺ menjelaskan bahwa Malaikat Jibril datang dan berdoa, lalu Nabi mengaminkannya.

Jibril berkata:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ رَمَضَانَ فَانْسَلَخَ مِنْهُ وَلَمْ يُغْفَرْ لَهُ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati Ramadhan, tetapi Ramadhan berlalu dan ia tidak mendapatkan ampunan.”

Kemudian Jibril berkata:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ أَوْ أَحَدَهُمَا فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

“Celakalah seorang hamba yang mendapati kedua orang tuanya atau salah satunya masih hidup, tetapi mereka tidak menjadi sebab ia masuk surga.”

Kemudian Jibril berkata:

شَقِيَ عَبْدٌ ذُكِرْتَ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَيْكَ

“Celakalah seseorang yang ketika namamu disebut di hadapannya, ia tidak bershalawat kepadamu.”

Dan setiap doa itu Rasulullah ﷺ berkata:

آمِينَ

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Mari kita renungkan doa kedua dari Malaikat Jibril tadi.

Celakalah seorang anak yang memiliki orang tua tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga.

Padahal Rasulullah ﷺ bersabda:

رِضَا الرَّبِّ فِي رِضَا الْوَالِدَيْنِ وَسُخْطُ الرَّبِّ فِي سَُخْطِ الْوَالِدَيْن

“Ridha Allah tergantung pada ridha kedua orang tua.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Hari ini banyak anak yang sangat sibuk dengan kehidupannya.

Bangun pagi langsung melihat telepon genggamnya.

Bangun tidur membuka WhatsApp.

Bangun tidur membuka Instagram.

Bangun tidur membuka TikTok.

Namun sering kali ia lupa satu hal:

Ia lupa mengucapkan selamat pagi kepada ibunya.

Ia lupa menanyakan kabar ayahnya.

Padahal dahulu ketika kita kecil…

Siapakah yang pertama kali bangun ketika kita menangis di tengah malam?

Ketika kita sakit demam di tengah malam, siapa yang paling gelisah?

Ketika kita terlambat pulang, siapa yang paling cemas?

Itulah ibu kita.

Seorang ibu bisa tidak tidur semalaman hanya karena anaknya sakit.

Namun sering kali anaknya bisa tidur nyenyak tanpa memikirkan ibunya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Coba kita renungkan.

Ketika kita masih kecil, kita tidak bisa berjalan.

Ibu kita menggendong kita.

Ketika kita lapar, ibu kita menyuapi kita.

Ketika kita jatuh, ibu kita yang menangis.

Ketika kita sakit, ibu kita yang tidak tidur.

Allah berfirman:

حَمَلَتْهُ أُمُّهُ وَهْنًا عَلَىٰ وَهْنٍ

“Ibunya mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Ayah kita mungkin tidak banyak bicara.

Ayah kita mungkin tidak banyak menunjukkan kasih sayang.

Namun diam-diam ia bekerja keras sepanjang hidupnya.

Ia bangun pagi, pergi bekerja, Ia menahan panas, Ia menahan hujan, Ia menahan lelah. , banting tulang peras keringat.

Semua itu dilakukan agar anak-anaknya bisa makan. Agar anak-anaknya bisa sekolah.

Agar anak-anaknya bisa hidup lebih baik. Namun sering kali ketika ayah sudah tua, anak justru mulai menjauh.

Ada orang tua yang hidup sendirian di rumahnya. Anaknya sibuk bekerja di kota.

Jarang pulang. Jarang menelpon. Jarang menanyakan kabar.

Padahal mungkin setiap malam ayah dan ibunya menunggu telepon dari anaknya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Hari ini kita merayakan Idul Fitri.

Namun ada ibu yang menangis karena anaknya tidak pulang.

Ada ayah yang duduk sendirian menunggu anaknya datang.

Ada orang tua yang membuka pintu rumah setiap kali ada suara motor, berharap itu adalah buah hatinya.

Namun yang datang hanyalah angin.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Jika hari ini orang tua kita masih hidup, maka sesungguhnya kita memiliki pintu surga yang sangat dekat.

Namun jika kita menyia-nyiakan mereka, maka kita termasuk orang yang disebut dalam doa Jibril tadi:

شَقِيَ عَبْدٌ أَدْرَكَ وَالِدَيْهِ فَلَمْ يُدْخِلَاهُ الْجَنَّةَ

“Celakalah seorang anak yang memiliki orang tua tetapi tidak menjadikannya jalan menuju surga.”

Kita semua memang tidak selalu menjadi orang tua, tapi setiap kita pasti adalah seorang anak. Maka setelah selesai shalat Id ini…

Jangan langsung sibuk dengan telepon genggam, sibuk berfhoto ria, sibuk menentukan perjalanan wisata.

Tetapi pulanglah !! Pulanglah wahai seklaian anak……

Datanglah kepada orang tua kita, Ketuk pintu rumah mereka, Peluklah mereka, Cium tangan mereka.

Dan katakan kepada mereka dengan penuh kejujuran:

“Ayah… Ibu… mohon maafkan anakmu ini.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Mungkin selama ini kita pernah membentak mereka.

Mungkin selama ini kita pernah membuat mereka menangis.

Mungkin selama ini kita jarang pulang menjenguk mereka.

Hari ini adalah waktu yang sangat tepat untuk meminta maaf.

Karena bisa jadi…

Ini adalah Idul Fitri terakhir kita bersama mereka.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Jika orang tua kita tinggal tidak jauh dari kita…

Maka jangan cukup hanya dengan mengirim pesan.

Jangan cukup hanya dengan menulis di WhatsApp:

Tapi datanglah !! dan Temui mereka.

Karena tidak ada pesan singkat yang bisa menggantikan hangatnya pelukan seorang anak.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Jika orang tua kita tinggal jauh di kota lain…

Jika kita tidak bisa pulang hari ini…Maka jangan biarkan hari ini berlalu tanpa suara kita sampai kepada mereka, Angkat telepon, Hubungi mereka.

Dengarkan suara mereka.

Katakan kepada mereka:

“Ayah… Ibu… mohon maafkan anakmu.”

Dan mungkin di seberang sana…

Ada seorang ibu yang menangis bahagia hanya karena mendengar suara anaknya.

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Namun jika hari ini orang tua kita sudah tiada…jika ayah dan ibu kita sudah kembali kepada Allah…

Maka jangan lupakan mereka, datanglah ke kubur mereka, ziarahi makam mereka, Bersihkan rumput di atas kubur mereka.

Angkat tangan kita dan berdoa:

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لَهُمَا وَارْحَمْهُمَا كَمَا رَبَّيَانِي صَغِيرًا

“Ya Allah, ampunilah kedua orang tuaku dan sayangilah mereka sebagaimana mereka menyayangiku ketika aku kecil.”

Ma’asyiral muslimin rahimakumullah.

Betapa banyak orang hari ini yang menyesal, mereka berdiri di depan kuburan ibunya.

Mereka menangis sambil berkata:

“Seandainya aku bisa memeluk ibuku sekali lagi…”

“Seandainya aku bisa mencium tangan ayahku sekali lagi…”

Namun waktu tidak bisa diputar kembali, kesempatan tidak datang dua kali, dan masa tidak enggan meninggalkan kita.

Karena itu jika orang tua kita masih hidup…

Jangan tunda berbuat baik kepada mereka.

Karena bisa jadi suatu hari nanti kita juga akan berdiri di depan kuburan mereka, dengan penyesalan yang tidak akan pernah bisa dihapus.

Semoga Allah menjadikan kita termasuk anak-anak yang berbakti kepada kedua orang tua.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللّٰهَ لِي وَلَكُمْ إِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ

Khutbah Kedua

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ، اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ

اللّٰهُ أَكْبَرُ كَبِيرًا، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ كَثِيرًا، وَسُبْحَانَ اللّٰهِ بُكْرَةً وَأَصِيلًا. لَا اِلَهَ اِلَّا اللَّهُ وَاللَّهُ أَكْبَرُ. اَللَّهُ أَكْبَرُ وَلِلَّهِ الْحَمْدُ

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ الَّذِي هَدَانَا لِلْإِسْلَامِ، وَجَعَلَ لَنَا مَوَاسِمَ لِلطَّاعَةِ وَالْإِحْسَانِ، وَفَتَحَ لَنَا أَبْوَابَ الْمَغْفِرَةِ وَالرِّضْوَانِ

نَحْمَدُهُ سُبْحَانَهُ وَنَشْكُرُهُ، وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَتُوبُ إِلَيْهِ

وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ

ُاَللّٰهُمَّ صَلِّ وَسَلِّمْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَجْمَعِينَ. أَمَّا بَعْد

 فَيَا عِبَادَ اللّٰهِ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِيْ بِتَقْوَى اللّٰهِ فَقَدْ فَازَ الْمُتَّقُونَ وَخَسِرَ الْمُفَرِّطُونَ

قَالَ اللّٰهُ تَعَالَى : وَقَضَى رَبُّكَ أَلَّا تَعْبُدُوا إِلَّا إِيَّاهُ وَبِالْوَالِدَيْنِ إِحْسَانًا

اللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَالْمُسْلِمِيْنَ وَالْمُسْلِمَاتِ اَلْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ

اللّٰهُمَّ ارْحَمْ وَالِدَيْنَا كَمَا رَبَّوْنَا صِغَارًا وَاجْعَلْنَا مِنَ الْبَارِّينَ بِوَالِدَيْنَا

اَللّٰهُمَّ تَقَبَّلْ مِنَّا صِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَرُكُوعَنَا وَسُجُودَنَا وَاجْعَلْنَا مِنَ الْعَائِدِينَ الْفَائِزِينَ، وَاجْعَلْنَا مِنَ الْمَقْبُولِينَ، وَلَا تَجْعَلْنَا مِنَ الْمَحْرُومِينَ

وَأَصْلِحْ أَحْوَالَ الْمُسْلِمِينَ فِي كُلِّ مَكَانٍ

رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا إِنَّكَ أَنْتَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ وَالْحَمْدُ لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ