Tidak sedikit santri yang tekun belajar, rajin hadir di majelis, dan aktif berdiskusi, tetapi perlahan terjebak pada orientasi yang keliru: ilmu dijadikan alat pengakuan sosial. Fenomena ini bukan hal baru. Ulama klasik telah lama memperingatkan bahwa ilmu yang kehilangan niat akan berubah dari cahaya menjadi cobaan.
Pertanyaan mendasarnya adalah: apakah ilmu dituntut untuk mendekatkan diri kepada Allah, atau sekadar untuk tampil lebih unggul di hadapan manusia?
Ilmu sebagai Ibadah, Bukan Alat Pencitraan
Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa menuntut ilmu termasuk ibadah paling agung, namun nilainya sepenuhnya bergantung pada niat. Ilmu yang dicari untuk riya’, popularitas, atau kemenangan debat justru menjadi sebab kebinasaan pemiliknya.
Al-Ghazali bahkan mengelompokkan penuntut ilmu yang salah niat sebagai orang yang tertipu oleh amalnya sendiri. Secara lahir tampak mulia, tetapi secara batin rapuh dan penuh ambisi duniawi.
Tanda-Tanda Ilmu yang Terinfeksi Riya’
Kitab Ta’limul Muta’allim karya Imam Az-Zarnuji memberikan isyarat halus tentang penyakit batin penuntut ilmu. Di antara tanda ilmu yang tidak bersih niatnya adalah:
-
Senang dipuji karena kepintaran
-
Merasa lebih tinggi dari teman seangkatan
-
Gelisah jika pendapatnya tidak diterima
-
Lebih sibuk memperbaiki citra daripada akhlak
Az-Zarnuji mengingatkan bahwa ilmu yang tidak disertai keikhlasan akan berhenti pada lisan, tidak pernah turun ke hati.
Riya’ Ilmiah: Penyakit yang Paling Sulit Disadari
Dalam Bidayatul Hidayah, Al-Ghazali menyebut riya’ sebagai penyakit halus yang sering menyamar sebagai kebaikan. Riya’ dalam ilmu lebih berbahaya daripada riya’ dalam amal fisik, karena tersembunyi di balik dalil, istilah ilmiah, dan wacana keagamaan.
Santri bisa merasa sedang berdakwah, padahal sedang memuaskan ego intelektual. Inilah yang membuat riya’ ilmiah sulit disembuhkan: ia tumbuh bersama pujian dan validasi.
Pandangan Ulama Pesantren tentang Bahaya Ilmu Tanpa Ikhlas
KH. Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim menekankan bahwa tujuan ilmu adalah taqarrub ilallah. Jika orientasi ini hilang, maka ilmu berubah fungsi menjadi alat dominasi, bukan pembimbing akhlak.
Beliau mengingatkan bahwa santri yang paling dikhawatirkan bukan yang bodoh, tetapi yang merasa paling benar dan paling tahu. Sebab kesombongan berbasis ilmu jauh lebih sulit dilunakkan.
Relevansi bagi Santri di Era Media Sosial
Di era digital, ilmu mudah dipublikasikan dan diapresiasi. Potongan ceramah, kutipan kitab, hingga opini keagamaan tersebar luas. Tanpa kontrol niat, santri berisiko menjadikan ilmu sebagai konten, bukan amanah.
Kitab-kitab klasik pesantren hadir sebagai rem moral, mengingatkan bahwa ilmu yang dipamerkan berlebihan justru rawan kehilangan keberkahan.
Penutup: Mengembalikan Ilmu ke Tujuan Aslinya
Ulama klasik sepakat bahwa ilmu sejati adalah ilmu yang melahirkan kerendahan hati, bukan kebanggaan diri. Ketika ilmu diamalkan dengan ikhlas, ia menumbuhkan kebijaksanaan. Namun ketika dipamerkan, ia perlahan menggerogoti keikhlasan pemiliknya.
Risalah ini menjadi pengingat bahwa nilai ilmu tidak terletak pada seberapa sering ia ditampilkan, tetapi seberapa dalam ia mengubah perilaku.
Rujukan Kitab
-
Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali
-
Bidayatul Hidayah – Imam Al-Ghazali
-
Ta’limul Muta’allim – Imam Az-Zarnuji
-
Adabul ‘Alim wal Muta’allim – KH. Hasyim Asy’ari





