Mengapa Santri Dilarang Membantah Guru? Telaah Adab Ilmu dalam Kitab Klasik Pesantren

santri membantah guru
Bagikan

Larangan santri membantah guru kerap disalahartikan sebagai bentuk pembungkaman nalar kritis. Dalam perspektif modern, sikap ini bahkan dianggap bertentangan dengan kebebasan berpikir. Namun, jika ditelaah melalui khazanah kitab klasik pesantren, larangan tersebut sama sekali bukan anti-intelektual, melainkan bagian dari adab ilmu yang memiliki landasan epistemologis dan spiritual yang kuat.

Ulama klasik tidak melarang berpikir, tetapi mengatur cara berpikir agar ilmu tidak kehilangan keberkahannya.

Adab Didahulukan dari Argumentasi

Dalam kitab Ta’limul Muta’allim, Imam Az-Zarnuji menjelaskan bahwa keberhasilan ilmu tidak ditentukan oleh kepandaian berdebat, melainkan oleh ketundukan adab terhadap guru. Membantah guru, meskipun dengan dalil, berpotensi memutus manfaat ilmu karena menggeser posisi murid dari pencari kebenaran menjadi pembela ego intelektual.

Menurut Az-Zarnuji, adab santri mencakup:

  • Mendengarkan penjelasan guru dengan penuh hormat

  • Menahan diri dari menyanggah secara langsung

  • Menyampaikan perbedaan pendapat dengan sopan dan waktu yang tepat

Larangan membantah bukan berarti meniadakan diskusi, tetapi menjaga agar diskusi tidak berubah menjadi perlawanan batin.

Guru sebagai Perantara Ilmu, Bukan Sekadar Informan

Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ Ulumuddin menegaskan bahwa guru bukan sekadar penyampai informasi, melainkan perantara turunnya cahaya ilmu. Karena itu, sikap santri terhadap guru sangat menentukan apakah ilmu tersebut akan menghidupkan atau justru mengeraskan hati.

Membantah guru di hadapan umum dipandang sebagai bentuk ketidak-takziman, yang secara spiritual dapat menutup pintu keberkahan. Al-Ghazali bahkan menyamakan adab murid kepada guru dengan adab pasien kepada dokter: patuh terlebih dahulu, memahami kemudian.

Perbedaan Membantah dan Bertanya dalam Tradisi Pesantren

Kitab Adabul ‘Alim wal Muta’allim karya KH. Hasyim Asy’ari memberi garis tegas antara bertanya dan membantah. Bertanya lahir dari keinginan memahami, sedangkan membantah sering kali lahir dari keinginan mengalahkan.

Dalam tradisi pesantren, santri dianjurkan:

  • Bertanya dengan niat tabayyun

  • Menunggu izin atau waktu yang pantas

  • Menghindari nada merendahkan atau menantang

Dengan demikian, larangan membantah guru bukanlah pengekangan akal, tetapi pendidikan etika intelektual.

Bahaya Membantah Guru terhadap Keberkahan Ilmu

Ulama klasik sepakat bahwa ilmu yang tidak dibarengi adab akan kehilangan pengaruhnya. Santri mungkin menjadi pandai secara teori, tetapi ilmunya sulit membentuk akhlak dan kebijaksanaan.

Dalam konteks ini, membantah guru bukan sekadar kesalahan etika, tetapi berpotensi menjadi kerugian spiritual jangka panjang. Ilmu tetap ada, namun manfaatnya mengecil, bahkan bisa menjadi alat pembenaran hawa nafsu.

Relevansi Larangan Ini bagi Santri Modern

Di era digital, santri sangat mudah mengakses berbagai pendapat dan dalil. Tanpa adab, kelebihan ini justru melahirkan sikap merasa paling tahu. Kitab-kitab klasik hadir sebagai penyeimbang, mengingatkan bahwa kedalaman ilmu tidak lahir dari banyaknya referensi, tetapi dari kematangan adab.

Pesantren yang menjaga larangan membantah guru sejatinya sedang menjaga ruh transmisi ilmu Islam, bukan mempertahankan otoritarianisme.

Penutup : Adab sebagai Penjaga Kemurnian Ilmu

Larangan santri membantah guru adalah mekanisme pendidikan yang dirancang untuk melahirkan ilmu yang hidup, bukan sekadar cerdas. Kitab-kitab klasik pesantren menunjukkan bahwa adab bukan penghambat nalar, melainkan penjaga agar nalar tetap berada di jalan kebenaran.

Ketika adab dijaga, ilmu tumbuh. Ketika adab runtuh, ilmu kehilangan arah.

Rujukan Kitab

  • Ta’limul Muta’allim – Imam Az-Zarnuji

  • Ihya’ Ulumuddin – Imam Al-Ghazali

  • Adabul ‘Alim wal Muta’allim – KH. Hasyim Asy’ari

Pengumuman Resmi

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Kategori

Profil Singkat PPM Al-Azkiya

PPM Al-Azkiya terletak di Parit Sulsel Ds. Pengalihan Kec. Keritang Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau

PPM Al-Azkiya merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan pendidikan berjenjang RA (Raudhatul Athfal)  hingga MA (Madrasah Aliyah), dengan sistem pembinaan terpadu yang menekankan keseimbangan antara keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan santri.

Al-Azkiya memiliki program unggulan Tahfidz Al-Qur’an, Takhossus (pendalaman Kitab Kuning), serta pembinaan karakter melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Muhadhoroh (latihan ceramah), ilmu kemasyarakatan, Drumband, dan kegiatan pengembangan minat bakat lainnya.

Apa Kata Alumni Tentang Azkiya ?

Ingin mengetahui lebih banyak informasi seputar kegiatan dan pendidikan di Pondok Pesantren Modern Al-Azkiya? Silakan jelajahi artikel lainnya atau hubungi kami untuk informasi lebih lanjut.

Pengumuman Resmi

Artikel Terbaru

Artikel Terkait

Kategori

Profil Singkat PPM Al-Azkiya

PPM Al-Azkiya terletak di Parit Sulsel Ds. Pengalihan Kec. Keritang Kab. Indragiri Hilir Prov. Riau

PPM Al-Azkiya merupakan lembaga pendidikan Islam yang menyelenggarakan pendidikan berjenjang RA (Raudhatul Athfal)  hingga MA (Madrasah Aliyah), dengan sistem pembinaan terpadu yang menekankan keseimbangan antara keilmuan, akhlak, dan kepemimpinan santri.

Al-Azkiya memiliki program unggulan Tahfidz Al-Qur’an, Takhossus (pendalaman Kitab Kuning), serta pembinaan karakter melalui berbagai kegiatan ekstrakurikuler, seperti Pramuka, Muhadhoroh (latihan ceramah), ilmu kemasyarakatan, Drumband, dan kegiatan pengembangan minat bakat lainnya.