Dalam tradisi pendidikan pesantren, peran asatidz tidak pernah dipahami sebatas pengajar materi pelajaran. Asatidz adalah figur sentral dalam proses internalisasi nilai, pembentukan karakter, dan pengarahan intelektual santri. Pendidikan pesantren bertumpu pada relasi keteladanan yang hidup, bukan sekadar transmisi pengetahuan secara verbal.
Sebagaimana Imam Al-Ghazali dalam Ihya’ ‘Ulum al-Din menegaskan bahwa tujuan utama pendidikan adalah tahdzib al-nafs (penyucian jiwa), bukan sekadar penguasaan ilmu secara kognitif semata. Oleh karena itu, asatidz berfungsi sebagai murabbi—pendidik yang membina jiwa, akhlak, dan orientasi hidup santri secara utuh.
Asatidz sebagai Murabbi: Pendidikan Berbasis Keteladanan
Dalam kitab Ta‘līm al-Muta‘allim Ṭarīq at-Ta‘allum, Imam Az-Zarnuji menegaskan bahwa adab terhadap guru merupakan syarat utama keberkahan ilmu. Ia menyatakan:
“Sesungguhnya ilmu tidak akan diperoleh dan tidak akan bermanfaat kecuali dengan memuliakan ilmu dan menghormati guru.”
(Az-Zarnuji, Ta‘līm al-Muta‘allim)
Pernyataan ini menunjukkan bahwa peran asatidz melampaui fungsi akademik. Asatidz berperan sebagai figur teladan (uswah) yang membentuk karakter santri melalui sikap, disiplin, dan integritas moral.
📚 Referensi kitab :
https://archive.org/details/TalimAlMutaallim
Integrasi Ilmu dan Akhlak dalam Pendidikan Pesantren
Konsep integrasi antara ilmu dan akhlak juga ditegaskan oleh Imam Al-Ghazali dalam Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn. Al-Ghazali menempatkan guru sebagai pembimbing ruhani yang bertanggung jawab atas keselamatan intelektual dan spiritual muridnya. Ia menulis:
“Seorang guru hendaknya memperlakukan murid seperti anaknya sendiri, membimbingnya menuju keselamatan akhirat.”
(Al-Ghazali, Iḥyā’ ‘Ulūm ad-Dīn)
Dalam konteks pesantren modern, prinsip ini relevan untuk menjaga keseimbangan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan pembentukan akhlak karimah.
📚 Referensi kitab :
https://archive.org/details/ihya-ulumuddin
Relevansi Peran Asatidz di Era Modern
Di tengah derasnya arus informasi dan perubahan sosial, asatidz dituntut memiliki kesadaran peran yang utuh. Mereka bukan hanya pendidik, tetapi juga penjaga nilai dan arah peradaban. Pesantren yang kuat adalah pesantren yang mampu melahirkan santri berilmu, berakhlak, dan memiliki komitmen sosial.
Sebagaimana ditegaskan KH. Hasyim Asy’ari dalam Adab al-‘Alim wa al-Muta‘allim, hubungan guru dan murid adalah relasi spiritual dan intelektual yang menentukan kualitas keberlanjutan ilmu. Tanpa adab dan keteladanan, ilmu kehilangan makna dan arah.
Integrasi Peran Asatidz dalam Pendidikan Pesantren Modern
Pesantren modern menghadapi tantangan globalisasi, digitalisasi, dan perubahan pola pikir generasi muda. Oleh karena itu, asatidz dituntut tidak hanya menguasai keilmuan klasik, tetapi juga memiliki kesadaran pedagogis dan sosial.
Sebagaimana dikemukakan oleh Ibnu Jama‘ah dalam Tadhkirah as-Sāmi‘ wa al-Mutakallim, seorang guru harus menjaga integritas ilmiah, akhlak, dan tanggung jawab sosialnya agar ilmu yang diajarkan membawa manfaat nyata bagi umat.
📚 Referensi kitab :
https://archive.org/details/tadzkirah-al-sami
Penutup
Peran asatidz sebagai murabbi merupakan fondasi utama pendidikan pesantren. Keteladanan, integritas moral, dan konsistensi nilai yang ditampilkan asatidz akan membentuk karakter santri secara mendalam dan berjangka panjang. Inilah kekuatan utama pesantren yang tetap relevan lintas zaman: pendidikan yang hidup, membumi, dan berorientasi pada pembentukan manusia seutuhnya.





